Akhir-akhir ini, polisi gencar memberantas kasus perjudian yang semakin menjamur di tengah masyarakat. Salah satu jenis judi yang berhasil diungkap oleh pihak kepolisian itu adalah sabung ayam. Dalam sejarahnya, permainan sabung ayam telah dikenal sejak lama di Indonesia, bahkan sejak zaman kerajaan.

Sejarah Permainan Sabung Ayam

Bahkan jenis permainan ini tercatat dalam buku karya Thomas Stamford Raffles berjudul The History of Java yang terbit pada 1817. Dalam bukunya, ia menulis kalau sabung ayam merupakan perlombaan yang sangat umum dilakukan di kalangan masyarakat Jawa.

Sabung ayam juga menjadi sebuah peristiwa politik pada masa lampau. Kisah kematian Prabu Anusapati dari Singosari yang terbunuh saat menyaksikan sabung ayam. Kematian Prabu Anusapati terjadi pada hari Budha Manis atau Rabu Legi ketika di kerajaan Singosari casino sedang berlangsung keramaian di Istana Kerajaan salah satunya adalah pertunjukan sabung ayam. Peraturan yang berlaku adalah siapapun yang akan masuk kedalam arena sabung ayam dilarang membawa senjata atau keris.

Sebelum Anusapati berangkat ke arena sabung ayam, Ken Dedes ibu Anusapati menasehati anaknya agar jangan melepas keris pusaka yang dipakainya jika ingin menyaksikan sabung ayam yang diselenggarakan di Istana, tetapi sesaat sabung ayam belum dilakukan Anusapati terpaksa melepaskan kerisnya atas desakan Pranajaya dan Tohjaya. Pada saat itu diarena terjadi kekacauan dan akhirnya peristiwa yang dikuatirkan Ken Dedes terjadi dimana kekacauan tersebut merengut nyawa Anusapati yang tergeletak mati diarena sabung ayam dibunuh adiknya Tohjaya tertusuk keris pusakanya sendiri. Kemudian jenasah Anusapati dimakamkan di Candi Penataran dan kejadian itu tetap dikenang orang, Anusapati adalah kakak dari Tohjaya dengan ibu Ken Dedes dan bapak Tunggul Ametung sedangkan Tohjaya adalah anak dari Ken Arok dengan Ken Umang itu memang diriwayatkan memiliki kesukaan menyabung ayam. Memang dalam cerita rakyat terutama Ciung Wanara mengisahkan bahwa keberuntungan dan perubahan nasib seseorang ditentukan oleh kalah menangnya ayam di arena sabung ayam, begitu juga Anusapati bukan kalah dalam adu ayam tetapi dalam permainan ini ia terbunuh.

Sekarang pada saat ini saya akan berbagi cerita adu ayam tradisional di Jawa. Dimana pada waktu itu ada seorang pria bernama Cindelaras yang mempunyai seekor sihir ayam yang tak terkalahkan oleh yang ayam pula. Pada dasar serta hasil yang ia diundang oleh Raja Jenggala terhadapwaktu ini untuk bergabung kompetisi.

Pada waktu itu ada persaingan antara ayam Cindelaras sihir untuk mengalahkan ayam milik Raden Putra, sehingga ia akan memiliki hak untuk menemukan setengah dari semua properti ketajiran Raja.

Dan sebaliknya jika Cindelaras ayam kehilangan, sehingga Cindelaras dihukum kepalanya dalam hukum kereta oleh putra raja. Cindelaras hasilnya adalah jawaban ke luar sebagai pahlawan dan orang-orang dari waktu itu sangat bersorak Cindelaras & Raden Putra untuk menghasilkan terhadap dikala kekalahan mengakui itu.

Pada saat masa lalu, sabung ayam juga sinyal politik pada saat itu. Kisah kematian Raja Anusapati dari Singosari yang tewas ketika melihat sabung ayam. kematian raja berlangsung terhadap HRI Buddha Anusapati manis atau waktu Rabu Legi di Singosari kerajaan yang terjadi kerumunan di Istana Kekaisaran salah satunya menunjukkan adu ayam. Peraturan yang berlaku bahwa siapa pun yang bisa masuk ke arena adu ayam mengambilsenjata dilarang atau keris.